Negeri Indonesia memanglah diketahui memiliki beraneka ragam seni serta adat yang membuat negeri ini memiliki karakteristik khas tertentu yang tidak di punya bangsa manapun di bumi. Banyak bangunan-bangunan yang bertabiat monumental berdiri akbar.

Bukan cuma bangunan-bangunan modern yang terbuat dengan mengadopsi arsitektur dari luar, namun pula sebab terdapatnya bangunan-bangunan memiliki yang ialah arsitektur asli warga Nusantara. Salah satunya merupakan gedung Punden Berundak.

punden berundak

Gedung bersusun mana pengertiannya nyaris serupa dengan gedung berundak. Hendak namun perbandingan dari gelar itu merupakan pada bagian mana yang bersusun dari obyek gedung yang dimaksudkan. Pada ulasan hal gedung penyembahan era Prasejarah (Megalitikum ataupun batu besar) lebih mengarah pada gedung berundak ataupun diucap punden.

Perihal itu sebab pada era itu pembuatan tempat penyembahan pada nenek moyang belum mempunyai ruangan spesial bagaikan tempat menaruh arca-arca dewa, ataupun cuma mendirikan monumen batu (Menhir) di atas gedung berundak.

Oleh sebab itu belum memakai asbes gedung. Hendak namun cuma terbuat dengan menata batu-batu yang diperoleh dari alam dengan wujud berundak-undak semacam tangga bagaikan suatu yang mendekati dengan gunung, dari rancangan keyakinan orang prasejarah kalau gunung merupakan tempat bermukimnya arwah nenek moyang. Arti dari gedung itu amatlah pendek, ialah terus menjadi besar peran ataupun status sosial orang yang dikuburkan hingga terus menjadi besar pula gedung itu terbuat yang mayoritas berundak 3 hingga 5.

Era Megalitikum ataupun yang pula lazim diucap dengan era batu besar berawal dari tutur awan yang berarti besar serta tutur lithikum ataupun lithos yang berarti batu. Era batu besar banyak meninggalkan barang hasil adat yang berbentuk bangunan-bangunan besar yang memiliki guna bagaikan alat buat melaksanakan penyembahan kepada arwah nenek moyang. Kultur ini berjalan sehabis era neolithikum, Sampai hingga dikala ini kita sedang bisa memandang barang-barang aset era ini di bermacam area indonesia.

Ilustrasi hasil adat batu besar ini antara lain berbentuk menhir, punden berundak, dolmen, kuburan batu, sarkofagus, waruga, serta bermacam tipe patung yang berdimensi besar. Ayo kita bahas satu persatu dengan cara lebih perinci.

Tingkatan awal menandakan kehidupan dikala sedang dikandungan bunda, tingkatan kedua menandakan kehidupan didunia serta tingkatan ketiga menandakan kehidupan sehabis tewas.

Megalitikum merupakan kultur yang menciptakan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Kultur ini mungkin bertumbuh sehabis bertumbuhnya adat metal. Hasil-hasil kultur Megalitikum lebih difungsikan bagaikan cagak kehidupan religius.

Aset megalitik lumayan bermacam-macam dalam aturan hias. Nama-nama mereka kerap (namun tidak senantiasa) memantulkan bagian penting dari lingkungan mereka, namun fakta arkeologi di banyak web lalu mengatakan kerumitan yang tidak dikenal tadinya. Selanjutnya ini merupakan catatan hasil kultur Megalitikum:

Era Megalitikum (awan berarti besar serta lithikum ataupun lithos berarti batu) diucap pula era batu besar. Hasil budayanya berbentuk bangunan-bangunan besar yang berperan bagaikan alat penyembahan pada arwah nenek moyang (Diambil dari : Bungdus).

Kultur ini berjalan sampai era metal, apalagi hingga dikala ini kita sedang bisa mendapati di bermacam wilayah di indonesia bagaikan sisa-sisa adat-istiadat adat Megalitikum. Ada pula hasil adat Megalitikum ini mencakup: menhir, batu berundak, dolmen, kuburan batu, sarkofagus, waruga, dan bermacam tipe patung berdimensi besar.

Categories: Umum