Sabut kelapa memiliki banyak sekali olahan yang berguna bagi kehidupan sehari hari. Nah, tentunya olahan sabut kelapa ini memiliki peran bukan? Kali ini saya akan membagikan peran produk olahan sabut kelapa.

Peran Produk Olahan Sabut Kelapa yang Wajib Kalian Tahu

Kelapa merupakan tanaman perkebunan yang dapat dikembangkan. Bagi masyarakat Indonesia, kelapa berperan dalam kehidupan mereka secara ekonomi, sosial dan budaya. Hingga tahun 2010, luas perkebunan kelapa tercatat sebesar 3.739.35.000 hektar dengan didominasi oleh perkebunan kecil (BPS, 2012).

Kelapa terbagi menjadi dua kategori: kelapa genjah dan kelapa dalam. Kelapa awal dapat berbuah pada umur 3-4 tahun dan dapat berproduksi sampai umur tanaman 30-40 tahun, sedangkan kelapa tua dapat berbuah pada umur 8-10 tahun bahkan tanaman dapat berumur 60-80 tahun.

Pengolahan Produk Komoditi Kelapa masih terfokus pada produk primer, baik berupa kelapa segar maupun kopra sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa. Upaya pengembangan pemanfaatan hasil samping dan limbah kelapa masih sangat kecil, namun hasilnya dapat meningkatkan nilai jual dan peningkatan pendapatan bagi petani kelapa.

Menurut Haryanto dan Suheryanto (2004) komposisi buah kelapa adalah 35% tempurung kelapa, 12% tempurung, 28% ampas dan 25% nira. Anda bisa mendapatkan rata-rata satu kelapa
0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat.

Sabut kelapa terbuat dari serat dan gabus. Serat yang diekstraksi adalah serat berbulu 40% dan serat kasur 60% (Anggoro, 2009). Gabus adalah bagian yang menghubungkan untaian serat satu sama lain. Pemrosesan sabut menghilangkan gabus untuk membuat serat yang bersih, halus dan berkilau. Pengolahan sabut kelapa umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu membiarkan dan menggiling.

Proses pelepasan memakan waktu 4-12 bulan. Hasilnya adalah serat putih yang bagus, panjang, dan bersih. Proses penggilingan dikenal dengan dua cara: penggilingan basah dan penggilingan kering. Teknik penggilingan basah membutuhkan waktu 1-6 minggu untuk menghasilkan serat yang panjang, pendek, berwarna kecoklatan.

Dengan penggilingan kering, serat yang dihasilkan pendek, kasar dan berwarna coklat tanpa menggunakan proses pencelupan atau dengan pelembab sedang dengan air. Warna sabut kelapa yang terlihat kecoklatan dipengaruhi oleh kandungan tanin. Selain menghasilkan warna hitam kecoklatan juga menyebabkan munculnya butir kelapa yang kasar dan keras.

Tanin merupakan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan bagi organisme hidup. Untuk membuat serat putih dan bersih dapat dilakukan dengan proses pemutihan dengan larutan pemutih yang dapat melarutkan asam tanat. Sedangkan untuk menghasilkan serat yang halus dapat dilakukan pencelupan menggunakan minyak nabati yaitu trigliserida dengan kandungan asam timbal risino 90%.

Jaring Sabut Kelapa (Cocomesh) Untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Cocomesh untuk regenerasi lahan bekas tambang Banyak pengusaha memilih memanfaatkan sumber daya mineral seperti batu bara, emas, nikel dan timah karena industri pertambangan menjanjikan pendapatan ekonomi yang sangat tinggi. Fenomena ini semakin menggeser ketersediaan lahan untuk kegiatan pertanian.

Lahan pratambang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi dan kesuburan yang rendah karena adanya timbunan yang berasal dari lapisan tanah bawah, baik lapisan C maupun bahan induk tanah (Hermawan, 2011).

Jalannya alat berat selama proses penambangan dan penimbunan juga berperan penting dalam menciptakan permukaan tanah yang rapat dan menutup pori-pori tanah (Hermawan, 2002). Dengan kata lain, kegiatan penambangan dimulai dengan penebangan tanaman penutup tanah, pengupasan lapisan tanah atas yang relatif subur, dan kemudian penimbunan kembali area penambangan sebelumnya.

Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat tanah, munculnya lapisan-lapisan bahan dasar yang berproduktivitas rendah, munculnya tanah masam dan garam yang dapat meracuni tanaman, kerusakan bentang alam, dan kerusakan lahan yang berdampak pada erosi.

Strategi reklamasi lahan bekas tambang adalah dengan melakukan rekonstruksi lahan dan pengelolaan topsoil. Upaya TPA perlu memperhatikan kontur lahan yang terbentuk pasca kegiatan penambangan. Untuk mengurangi panjang lereng dilakukan penimbunan kembali lereng berupa terasering dengan menggunakan jaring sabut kelapa (coco mesh).

Karena Cocomesh terbuat dari serat alami, ia terurai menjadi humus, yang murah, kuat dan tahan lama. Kemampuan Cocomesh untuk menyerap dan menyimpan air mengurangi potensi erosi tanah di tanggul.

Itulah sedikit artikel tentang peran produk olahan sabut kelapa. Mungkin setelah membaca artikel ini anda mulai paham tentang betapa bermanfaatnya sabut kelapa.