Akademisi dan praktisi perguruan tinggi berpartisipasi memberi tambahan alternatif teknologi pertanian dan mengungkap kondisi pertanian juga pasar pembeli pada masa Pandemi Covid-19.

“Sudah semestinya akademisi perguruan tinggi berkontribusi di dalam inovasi teknologi pertanian untuk ikut menanggulangi masalah pandemi covid-19, layaknya di dalam produk empon empon untuk antasipasi dan penyembuhan dari covid-19 Prof. Dwidja Priyatno sementara membuka Webinar Seminar Nasional

Seminar online yang dihadiri sekitar 350 peserta ini juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dr. Paristiyanti Nurwardani dan Rektor Unida Dr. Dede Kardaya dan dipaparkan sejumlah inovasi teknologi pertanian yang dijalankan dari para dosen dan dari perguruan tinggi lain.
Pasar pertanian, layaknya umbi-umbian, sayuran dan ternak unggas mengalami penurunan, harga jualnya di tingkat petani alami penurunan dibanding sebelum pandemi covid-19,” ungkap Pemimpin Redaksi Tabloid Sinar Tani Ahmad Soim sementara mengemukakan materinya berkenaan “Potret Pertanian pada masa Pandemi Covid-19.

Dijelaskannya pada masa pandemi covid-19, sektor pertanian bisa tumbuh positif pada sementara sektor lain tumbuh secara negatif. “Pada Triwulan II Tahun 2020, PDB sektor pertanian tumbuh positif 16,24 % pada sementara PDB nasional negative 4,19 % dan sektor lainnya tumbuh negatif. “NTP atau nilai ubah petani secara nasional juga rata rata di atas 100,” tambahnya.

Namun demikian di lahan usaha taninya didapati petani yang rugi dikarenakan harga menjual pertaniannya jatuh, layaknya yang dialami petani sayuran, umbi-umbian dan ternak unggas ayam ras. Penurunan ini berlangsung dikarenakan kekuatan serap pembeli alami penurunan dikarenakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan work from home (WFH).

“Dari knowledge hasil survai yang dijalankan Badan Pusat Statistik (BPS) banyak pekerja yang terkena PHK, dirumahkan. Yang masih bekerja, 62 % renponden melaksanakan WFH. Banyak restoran dan hotel yang tutup dikarenakan PSBB. Makanya petani perlu mengatur produksinya dengan kondisi pasar ini,” jelasnya.

Bisnis pertanian yang menggeliat pada masa Pandemi Covid-19 adalah usaha tani dan pengolahan empon empon dan urban farming (pertanian perkotaan) layaknya hidroponik. “Termasuk banyak dijajakan di pemasaran online kalung eucalyptus (minyak kayu putih) untuk pencegahan covid-19,” tambah Ahmad Soim.

Ada 4 langkah kunci sukses bertanam sayuran dan empon empon di lahan sempit/pekarangan atau disebut urban farming. Dr Nurjaya Dosen Universitas Suryakancana dan praktisi Urban Farming menjelaskan 4 langkah kunci sukses berikut adalah pertama, pengolahan tanah/media tanam (30 persen). Kedua, penggunaan benih & bibit ( 30%). Ketiga, pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan susulan, perempelan, penalian, pengendalian hama dan penyakit/opt dan juga panen (30%). Keempat, penggemar tanaman (10%).
Tiga Inovasi Teknologi

Pada webinar seminar nasional ini juga dipaparkan tiga inovasi teknologi pertanian. Pertama, berkenaan teknologi monitoring serangga hama pada kangkung darat di masa pandemi covid-19. Disampaikan oleh Dr. Sri Nur Aminah Ngatimin dari Universitas Hasanuddin Makassar. Penelitian ini dijalankan dengan dengan Prodi Agroteknologi, Fakultas Sains Terapan Universitas Suryakancana, Cianjur, Jawa Barat.

Menurutnya hasil panen tanaman kangkung sangat dipengaruhi oleh adanya problem serangga. Yellow trap merupakan teknik monitoring arthropoda yang lazim digunakan danmudah aplikasinya. “ Tujuan penelitian ini untuk mempelajari potensi perangkap kuning sebagai alat monitoring ramah lingkungan pada budidaya tanaman kangkung darat di masa pandemi covid-19. Manfaatnya petani bisa menggunakan limbah plastik sebagai bahan baku perangkap kuning.

Kedua, inovasi berkenaan aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga/ ganggang sargassum sp. dari pantai Sayang Heulang, Garut, Jawa Barat oleh Dr. Windy Widowaty Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Al- Ghifari, Bandung. Ditemukan banyak senyawa yang bermanfaat untuk Kesehatan bahkan pengobatan. Windy contohkan senyawa bioaktif yang dihasilkan dari ekstrak makroalga adalah polisakarida, di antaranya galactan bisa untuk anti tumor. Fucoidan untuk antiinflamasi (anti radang), anti tumor, antioksidan. Laminarin untuk prebiotik, antibakter. Alginat untuk antibakteri, anti inflamasi (anti radang).

Ketiga, inovasi berkenaan program holistik pembinaan dan pemberdayaan desa (PHP2D) yaitu penerapan teknologi yumina, bioproses budidaya tanaman herbal dan olahan pangan fungsional di Desa Harkatjaya, Kabupaten Bogor yang terdampak pandemi covid-19 dan bencana alam.